Saya menahan diri untuk tidak menurunkan tulisan ini hingga suara masuk di web KPU RI mencapai angka sekurang-kurangnya 90 persen. Ini cerita saya saat masih menjadi wartawan aktif dan meliput di Kantor Gubernur Aceh.

Saya ingin mengawali tulisan ini dari sebuah cerita yang sebenarnya bisa membuat saya “malu” sendiri. Saya tidak ingat lagi tanggal pasti kejadiannya. Mungkin sekitar medio Februari tahun 2007 lalu. Saya yakin Irwandi Yusuf (selanjutnya saya sebut Tgk. Agam) pasti tidak ingat dengan kejadian tersebut.

Kala itu sebagai seorang wartawan Harian Rakyat Aceh, saya pernah “dipermalukan” Tgk. Agam. Saat itu, dia baru saja selesai mengahadiri sidang paripurna di DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh). Tgk. Agam yang kala itu menjabat gubernur enggan menjawab pertanyaan saya. Alasannya, “tak berbobot.”

Saya sempat grogi dan salah tingkah dibuatnya. Apalagi itu dilakukan di depan khalayak ramai. Tapi Tgk. Agam kemudian malah tidak dapat menahan tawanya.

Bagi saya dan sebagian besar rakyat Aceh tempo itu, Tgk. Agam memang sosok unik, dan sesekali temperamental. Bahkan bagi kalangan wartawan. Tapi sebenarnya ia lembut. Berbagai lakon tak lazim pernah dilakukannya, seperti menyetir mobil sendiri dalam perjalanan dinas, terlihat asyik menyantroni beberbagai kawasan hutan yang habis dibabat pengusaha HPH (hak pengelolaan hutan) nakal, dan singgah di rumah penduduk di saat sahur tanpa terlebih dahulu memberitahukannya.

Suami dari Darwati A Gani ini memang sedikit beda, tak ada yang bisa menebak kenapa ia “berperilaku” demikian. Suatu kesempatan ketika proses Pilkada (pemilihan kepala daerah) tahun 2006 sedang berlangsung, kami pernah bertemu di Hermes Palace Hotel. Saat itu sedang berlangsung penarikan nomor urut bagi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

Semua pasangan calon, dalam kesempatan tersebut tampil dengan pakaian necis. Tapi, berbeda dengan Tgk. Agam. Dia hanya terlihat mengenakan baju kemeja biasa dan kelihatan “sedikit lusuh.” Beberapa wartawan lain juga berpendapat sama soal penampilannya.

Paham akan hal itu, Tgk. Agam menjawab, “Inikan pakaian rakyat. Kalau terlalu bagus nanti malah rakyat jadi enggan berjumpa.”

Lagi-lagi, ini adalah cara pandang seorang Tgk. Agam dalam melayani masyarakat.

Suatu ketika, saat menjadi inspektur upacara pada apel perdana di halaman Kantor Gubernur Aceh, dia pernah menyatakan niatnya untuk membuka kotak pos khusus untuk rakyatnya.

Tgk. Agam berkata, “Saya akan buka kotak pos khusus untuk rakyat yang tidak berani berjumpa dengan saya untuk memberi pendapat dan menyampaikan keluhan mereka.”

Namun, ide kotak pos itu kemudian kurang terdengar atau tidak terpublikasikan tentang kotak pos khusus itu.

Berbagai bisikan dari para pejabat kala itupun pernah terdengar. Katanya, “Kami (pejabat) tak bisa bekerja dengan tekanan seperti itu, karena belum selesai program, kami telah dicopot oleh sang gubernur.”

Namun, di luar dugaan para pejabat tersebut, Tgk. Agam malah membuat gebrakan baru saat itu, seleksi pejabat dilakukan melalui fit and propertest.

Dan, karena karakter Tgk. Agam itulah, belum ada calon pejabat yang berani melobinya. Bahkan setelah Teungku Agam menggenggam 126 calon pejabat eselon II dan IIa baru hasil fit and propertest, setingkat kepala dinas/badan, kantor, plus kepala biro di jajaran Sekretariat Daerah (Setda) Aceh. Menjelang satu tahun sejak dia dilantik dan resmi memimpin Aceh, 8 Februari 2007 silam. (Bersambung…)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here