News Aceh Story

Dodo da idi dan Rindu Muhammadku

Muhammadku Muhammadku dengarlah seruanku/ Aku rindu aku rindu kepadamu Muhammadku…//

Lama aku tidak merasakan pengalaman spiritual seperti ini. Hingga kemarin, aku seperti terhipnotis saat melihat putriku begitu bersemangat menyimak lagu terbaru Haddad Alwi. Lagu religi yang diputar seiring dengan akan datangnya bulan suci Ramadhan. Rindu Muhammadku. Pancaran matanya berbinar-binar. Aura wajahnya menyiratkan kegembiraan yang seolah tidak tertekan oleh suatu beban apapun. Tangannya diangkat ke atas. Tubuhnya meliyuk-liyuk mengikuti irama lagu. Beputar dalam putaran 360 derajat.

Umur putriku baru 1,5 tahun. Aku langsung memeluknya begitu lagu (iklan) yang diputar melalui salah satu saluran televisi swasta itu berhenti. Ia ikut memelukku. Menebarkan seutas senyuman ke arahku. Menciumku. Aku tidak dapat menahan haru. Ia menyiratkan kerinduan kepada Nabinya. Dan, memancarkan sebagiannya kepadaku. Dan, aku tidak dapat menyembunyikan lagi bahwa aku pun telah ikut tenggelam dalam rasa kerinduan kepada Nabiku. Muhammaku. Kerinduan seperti dulu, saat pertamakalinya aku jatuh cinta kepada isteriku. Kerinduan dan pengalaman yang aku yakini juga pernah dirasakan para orangtua lainnya bersama anak mereka. Pengalaman yang juga dirasakan seorang anak bersama orangtuanya.

Esoknya, aku berusaha mencari mencari copy dan klip lagu tersebut. Aku bertanya pada kawan-kawan yang sering mendonwload lagu-lagu dari internet di kantor kami di Harian Aceh. Tapi aku hanya mendapatkan versi MP3nya. Aku tentu saja tidak puas. Aku ingin melihat putriku merefleksikan kembali kerinduan kepada Nabinya dalam durasi yang panjang. Sebagaimana durasi lagu tersebut. Dua menit, 53 detik. Aku lalu membuka youtube.com. Situs yang sama yang telah mempopulerkan Jojo dan Shinta dengan lagu “Keong Racunnya”.  Dengan mudah aku mendapatkan klipnya.

Tanpa putriku, aku memang bisa merasakan sedikit kerinduan itu. Tapi, tidak seperti saat bersamanya. Aku mencoba mendonwloadnya, tapi, laptopku meminta program IDM (internet download manager). Dengan petunjuk kawan, aku bisa mendonwload IDM dari internet. Aku bersyukur. Tekhnologi bila digunakan dengan bijak rupanya bisa memberikan syafaat dan kemudahan bagi penggunanya.

Bagiku, Haddad Alwi dengan Rindu Muhammadku telah mengingatkanku kembali pada lantunan dodo da-idi yang dilantunkan oleh poma (ibu) kita dulu. Lantunan yang meninabobokkan kita saat kita masih tidur di ayunan.

Ada persamaan antara lagu-lagu Haddad Alwi dan dengan lantunan dodo da-idi. Keduanya sama-sama bisa memberikan kesejukan ruhiyah. Meski dodo da-idi lebih memberikan spirit futuwwah. Spirit kekesatriaan spiritual untuk berjuang melawan musuh yang memerangi Islam di medan perang.

Lagu Haddad Alwi sendiri, bagi saya lebih kepada spirit seorang sufi. Spirit untuk menyucikan jiwa. Spirit yang menumbuhkan rasa cinta, kedamaian, atau persaudaraan universal. Bukan takut kepada Tuhan. Tapi mencintai Tuhan.

Simaklah dua perbedaan lirik berikut. Haddad Alwi dalam Reff Rindu Muhammadku menulis:

Muhammadku Muhammadku dengarlah seruanku/ Aku rindu aku rindu kepadamu Muhammadku//

Kau yang mengaku cinta kepada nabimu/ Kau yang mengaku merindukan nabimu//

Jika kau benar-benar cinta dan rindu kepada Muhammad nabimu/ Buktikan/ Taati perintahNya, tinggalkan larangan-Nya/ Teladani akhlaknya/ Niscaya kelak kau akan berjumpa dengan Rasullallah/Niscaya kelak kau akan berkumpul dengan Rasullallah//

Atau lirik dodo da-idi yang dipopulerkan Nyawong:

Allah hai dodo da- idi/ Seulayang blang ka putoh taloe/ Beu rijang rayeuk muda sedang/ Tajak Bantu prang ta bela naggroe//

Wahe aneuk bek ta duk le/ Beudoh sare ta bela bangsa/ Bek ta takot keu darah ile/ Adak pih mate poma ka rela//

Melalui lirik syair seperti ini, kita bisa melihat bahwa nilai-nilai jalan hidup para pejuang ruhani sudah ditanamkan di dada anak-anak Aceh sejak ia masih dalam ayunan (baru lahir).

Bagi saya, dodo da-idi yang dilantunkan secara musik tutur oleh ibu kita bukan saja membuat anak-anak mudah terlelap dalam ayunan, tapi mengandung pengharapan agar kelak sang anak menjadi seseorang dengan budi pekerti gagah berani membela kebenaran. Seorang pemuda dengan gelar ‘Fata’ atau jamaknya ‘Fityah’. Sebutan untuk tiga kekasih Tuhan. Nabi Ibrahim (tergambar dalam surat Al-Anbiya: 60). Asshabul Kahfi (surat Al-Kahfi: ayat 10-13), dan Yusha bin Nun –murid Nabi Musa— (surat Al-Kahfi: 60).

Seseorang dengan karakter futuwwah yang akan melawan penguasa dhalim secara terorganisir. Seperti karakter futuwwahnya Sayyidina Ali saat membetengi Muhammad SAW dari serangan musuh di perang Uhud. Mematahkan serangan-serangan musuh yang berusaha mendekati sang penghulu Nabi. Sikap futuwwah Ali yang kemudian juga mendapatkan apresiasi dari Malaikat Jibril, “La sayfa illa dzulfiqar walaa Fataa illa Aliy!” Artinya, “Tak ada pedang kecuali pedang dzulfiqar (milik Ali pemberian Nabi Muhammad SAW) dan tak ada pemuda (yang gagah berani) kecuali Ali!” Seruan ghaib ini dicatat dalam sejarah. Baik dari jalur Sunni (Riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Atsir) juga dari jalur Syi’ah.

Insya Allah, bulan suci Ramadhan akan tiba pekan depan (MUI memprediksikan Rabu, 11 Agustus). Ini adalah momen yang tepat. Sudah saatnya trend musik Aceh yang mencangkok irama dangdut atau Bollowood, India kita minimalisir. Saatnya kita kembalikan seni lagu-lagu Aceh pada tardisi penyucian jiwa. Tradisi futuwwah. Tradisi agar para umara, ulama, rakyat, dan anak-anak Aceh selalu dan selalu merasa diingatkan oleh syair-syair religi tersebut.

Tradisi musik yang akan membuat rakyat Aceh secara berkala merasakan perjalanan spiritual. Perjalanan ruhiyah yang membuat siapa saja yang merasakannya tersadar bahwa perbuatan-perbuatan yang menyakiti orang lain, ketidakadilan, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kesenangan pribadi, dan kediktaroran hanya akan membuat mereka malah tersiksa diujung kehidupan. Kesengsaraan yang akan berlanjut di alam keabadian. Hari Pembalasan. Semoga! Marhaban ya Ramadhan.(*)