News Aceh Story

Dari Sunset untuk Indahnya Perdamaian

Tanoh Aceh teumpat lon lahee/ diujong pantee pulau Sumatra  


Itulah salah satu penggalan bait syair lagu “Aceh Tanoh Lon Sayang” yang dinyanyikan pada perayaan satu tahun MoU Helsinki di Pantai Ulee Lheu Banda Aceh. Pantee yang berarti pantai mengisyaratkan dua sisi arti yang identik dengan masyarakat Aceh, kuat seperti deburan ombak dan indah layaknya sunset.

“Saya tidak pakai lighting sama sekali, hanya sunset, kecantikan yang Tuhan berikan. Waktu sunset, buat saya itu Tuhan sedang melukis. Bintang terlihat lebih dekat. Kalau kita memang baik pasti semua baik. Hujan pun tidak apa. Bila itu maunya Tuhan. Semua ada maksudnya,” kata Jay Subyakto, konseptor dan artistik Pagelaran Aneuk Nanggroe yang dipentaskan pada akhir acara peringatan satu tahun MoU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM, Selasa sore (15/8), di Pantai Ulee Lheu Banda Aceh. Bertepatan dengan detik-detik penandatanganan nota kesepahaman damai itu sendiri.

Barangkali, sekarang kita hambanya sadar, Tsunami yang meluluhlantakkan kawasan pesisir pantai Aceh dan telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia dengan berbagai kondisi, ada yang terlentang di jalanan, tersenyum diatas kasur yang terapung dengan wajah berseri-seri, seorang ibu sambil memeluk bayinya dengan damai atau malah seorang anak manusia yang selonjoran tanpa busana, telah membukakan mata hati kita semua. Bahwa hidup selain membina hubungan dengan-Nya adalah juga menjaga tali silaturahim dengan prinsip persaudaraan universal.

Itu pula yang kemudian melandasi dipercepatnya upaya perdamaian oleh para pihak di “Aceh Tanoh Lon Sayang” ini setahun silam. Sejarah itu pula, pada tanggal 15 Agustus 2006 dikenang kembali oleh tidak hanya rakyat Aceh, tapi juga masyarakat nasional dan internasional. Ditempat, dimana inspirasi bagi lahirnya perdamaian yang telah lebih dari 30 tahun lamanya didambakan. Tentunya dengan harapan, melahirkan perdamaian abadi di Aceh atau seperti asanya seorang yang telah sangat berjasa dalam perdamaian ini.

“Suatu saat, saya ingin kembali lagi kemari, menyaksikan Aceh yang sejahtera,” kalimat itu mengakhiri pidato resmi Ketua Crisis Management Initiative (CMI), Martti Ahtisaari yang merupakan inisiator lahirnya MoU helsinki antara RI dan GAM di pantai Ulee Lheu, Banda Aceh, Selasa (15/8). Menuntaskan segenap asa dan harapan lain dari masyarakat Aceh.

Indah dan damainya perayaan satu tahu MoU Helsinki layaknya sunset juga dapat dinikmati oleh masyarakat Aceh lainnya secara langsung.di tempat yang sebelum musibah itu bernama Pantai Cermin. Sebagian masyarakat yang hadir, adalah mereka yang mengikuti rapat akbar penyempurnaan UUPA di Mesid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada pagi harinya. Salah satunya adalah Ismail (33), warga Cunda Lhokseumawe yang datang bersama-sama anak dan isterinya.

“Saya senang, saat masyarakat seperti kami ini juga dibolehkan untuk mengikuti acara yang dihadiri oleh Bapak Yusuf Kalla (Wapres-red) ini,” katanya mengomentari pertanyaan Rakyat Aceh. Ismail mengaku, untuk lolos masuk ke arena, ia bersama isteri dan anak-anaknya hanya bermodalkan tertib dan patuh pada protokoler yang telah dibuat pihak keamanan. Terlihat, raut wajah isterinya memancarkan rona kebahagiaan dan dua buah hati mereka yang bersorak-sorai tanda kegirangan.

Bagi Ismail, setelah satu tahun penandatangan kesepahaman damai, Aceh telah banyak mencapai kemajuan. “Tapi, masyarakat juga masih butuh perhatian, ibarat anak yang membutuhkan perhatian orangtuanya,” ujar Ismail. Hal yang sama pun diutarakan Bashir (45), warga Alue Dayah Teungoh dan Jafaruddin (52) asal Lampaseh Kota Banda Aceh.

Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Dr Ir Mustafa Abubakar MSi pun mengutarakan bahwa perdamaian ini akan senantiasa terpatri dalam sanubari masyarakat Aceh dan tercatat pula dengan tinta emas dalam rentan sejarah masyarakat yang penuh dinamika.

“Dari lubuk hati yang paling dalam, kami sampaikan rasa terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah membantu bagi terwujudnya perdamaian ini,” kata Ayah tiga anak ini sambil menyeka air mata.

Ia pun mengharapkan, solusi damai atas konflik Aceh dapat pula dipromosikan menjadi model bagi penyelesaian konflik secara bermartabat dan berkelanjutan di negara-negara dunia lainnya yang sedang dilanda konflik. Namun, Mustafa juga menyadari, bahwa mempertahankan perdamaian lebih sulit dari pada mencapai dan mewujudkan perdamaian itu sendiri.

Oleh karenanya ia mengajak masyarakat Aceh untuk menerapkan three peace, yaitu berfikir damai (thinking peace), bekata damai (saying peace) dan bertindak damai (acting peace).

“Dengan memulai ini, insya Allah, Ilahirabbi Tuhan yang cinta damai dan dari-Nya lah segala kedamaian bersumber, akan menolong kita mempertahankan perdamaian di Aceh , Ind onesia dan seluruh dunia,” kata Mustafa yang akan mengakhiri masa jabatannya berbarengan dengan terpilihnya Gubernur/Wakil Gubernur baru Aceh pada Pilkada Desember mendatang.[]