News Aceh Story

Aku Menangis, Aku Terharu, Aku Kembali Hidup

Kata Pengantar: 

Ini adalah ungkapan istriku yang membuat aku mengharu biru. Aku minta izin kepadanya agar bisa mem-posting-nya di sini. Sejujurnya, awalnya, aku memang menyembunyikan darinya tentang penulisan novel, “Jiwa yang Termaafkan.”  

My Heart

Selengkapnya, inilah ungkapannya: 

Mungkin sebagian orang menganggapnya tak mungkin. Tapi inilah yang terjadi. Abang (Teungkumalemi) pada awalnya tak pernah memberitahukan tentang penulisan novel ini. Meski saya adalah isterinya. Saya memang melihat, sejak setahun lalu, di waktu-waktu tertentu abang selalu sibuk dihadapan laptopnya. Saat itu saya menganggapnya wajar, karena memang profesi Abang yang seorang jurnalis.

Belakangan saya tau Abang menulis novel dan kemudian di terbitkan Republika Penerbit.

Setelah membaca novel Jiwa yang Termaafkan ini, saya sedikit menjadi paham mengapa dulu Abang tidak memberitahukannya pada saya. Ternyata Abang menulis kembali kisah hidupnya. Meski kemudian ada sentuhan-sentuhan fiksi.

Ada gejolak jiwa yang membuat saya memaksakan diri menulis ungkapan ini. Seperti kata-kata yang selalu diulang-ulang oleh Abang, “Menulis itu obat.” Apalagi setelah saya melihat dan membaca komentar-komentar kakak di facebook.

Aslm…Kak,novel “Jiwa Yang Termaafkan” bagus banget..sangat inspiratif.

jadi nga sabar win pgn baca..kombinasi yg oke ya ttg konflik batin,cinta n filsafat.

bahasanya dalam..:).

SaLluUuuT!!!CiNta,FilosOfi hiDup,NasEhAt,FiRmAn & HadIs disajikan tanpa sedikitpun menggurui dlm novel yg pnuh ketegangan dan tantangan tuk segera tau kelanjutan’a..WaJIb DiMilIKI…

Novel indah ”JiWa yANg terMaaFKan”sebuah pembuktian diri yang membanggakan buat keluarga d,terutama buat kakak.SELaMat Yaa..

Teng q u, kak. Semoga Allah meridhai setiap usaha qta. 2,5 persen dari penjualan novel itu insya Allah akan didedikasikan utk beasiswa anak-anak yatim.dll komentarnya.

Saat pertama kali Abang membawa pulang novel itu dari Jakarta, saya harus membacanya dalam deraian air mata. Seolah saya bisa merasakan apa yang Abang derita. Saya tau Abang menderita sindrom kematian. Dokternya bilang seperti depresi anxiety. Tapi Abang dulu tidak pernah mendeskripsikan bagaimana rasanya saat penyakit abang itu kambuh. Dan, saya seolah-olah bisa merasakannya begitu membaca novel itu.

Saya juga teringat dengan Bapak saya yang juga menderita penyakit yang hampir sama dengan Abang. Bapak saya pun menderita penyakit itu akibat trauma konflik, dan beliau tak sanggup lagi menahan gejolak jiwanya karena usia yang sudah mulai uzur.

Mungkin sebagai istri saya selama ini terlalu egois. Karena itulah saya menangis. Tapi saya haru dan merasakan ada getaran-getaran dan semangat kehidupan baru setelah selesai membaca novel itu.

Saya juga jadi paham bagaimana sesungguhnya kekuatan seorang perempuan itu bisa membangkitkan energi seorang laki-laki, walau dalam keadaan lemah sekalipun. Bagi saya, abang telah menuntun saya dengan cara-cara yang membuat saya haru.

Salam haru saya untuk para istri yang selalu menguatkan suaminya di tengah konflik kehidupan. (*)