News Aceh Story

Jiwa yang Termaafkan

“Bagaimana kalau kebahagiaan jiwa adalah penyatuan dua jiwa.” Diwa berbalik. Menatap gadis pujaan hatinya dalam kesedihan mendalam.

Itu adalah penggalan dari dialog di dalam novel berjudul, “Jiwa yang Termaafkan”. Novel baru karya jurnalis Harian Aceh. Mardani Malemi. Novel yang juga kami dedikasikan 2,5 persen dari penjualannya untuk beasiswa anak-anak yatim. Khususnya korban konflik Aceh.

Dengan menggunakan nama pena “Teungkumalemi”, novel setebal vi+426 halaman yang diterbitkan Republika Penerbit itu berkisah tentang filosofi hidup dan pergolakan jiwa seorang pemuda Aceh yang menderita sindrom kematian. Sisi lain ekses konflik Aceh yang selama ini belum sempat terkuak.

Kisah dalam novel ini berawal saat Teungku Malem Diwa (tokoh utama dalam novel ini) masih kecil. Lingkungan dan konflik yang tidak mendukung keberadaannya membuat jiwanya terombang ambing dalam metamorfosis kehidupan.

Kondisi bertambah parah ketika ia kerasukan roh halus saat melintasi daerah merah yang sering dijadikan sebagai tempat operasi para mafia konflik.

Jiwanya makin labil. Awalnya ia merasakan seperti orang gila. Lambat laun giliran jiwanya yang tertusuk-tusuk duri sindrom kematian. Tidak cukup sampai disitu, ia harus menerima kenyataan ada orang yang senantiasa mengubernya dengan surat-surat misterius. Surat-surat yang membuatnya makin ketakutan. Bahkan hingga ia beranjak dewasa dan mulai mengenyam pendidikan di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Kesejukan sebentar datang menghinggapinya, ketika seorang gadis tiba-tiba masuk dalam kehidupannya dan menyenandungkan filosofi-filosofi hidup. Tapi, lambat laun, sang gadis menunjukkan jati diri yang sesungguhnya, dengan membawa persoalan baru baginya.

Ia ingin Diwa memcahkan teka-teki loncatan politik yang dilakukan orangtuanya di tengah konflik Aceh. Teka-teki yang sulit terjabarkan sejak ibu sang gadis terbunuh.

Dengan setting berpindah-pindah, mulai dari perkampungan pedalaman di Kabupaten Pidie, Banda Aceh, Medan, sebagian kota-kota lain di pulau Sumatra, Jakarta, Singapura, Thailand, hingga Ambon, novel ini mampu menyuguhkan sebuah filosofi dan kekuatan hidup terpendam yang selama ini tidak disadari dan dimiliki oleh seseorang.

Bahkan, Hasbi Abdullah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, menyebutkanya sebagai “… cermin kebijaksanaan hidup orang Aceh.” Nezar Patria, Ketua Aliansi Jurmalis Independen (AJI) Indonesia menilainya sebagai sebuah karya yang menggoda dengan karakter yang membekas diingatan.

Ada juga pendapat Syamsul Rijal Sys, Doktor Filsafat Islam IAIN Ar-Raniry yang menyebutkanya sebagai karya yang sarat makna filosofis dan mengkritisi keluhan hidup manusia sehari-hari. Ia pun tak lupa melabel novel ini sebagai karya yang mampu membangkitkan nili-nilai kekesatriaan spiritual.

Malah, adik kandung Teungkumalemi, Erwin Saputra menyebutnya sebagai karya lawas yang disari dari kisah hidup Teungkumalemi, hingga mampu mebasuh dahaga jiwa setiap pembacanya. Ada juga pendapat dr. Kris, Sp. Kj yang menyebutnya sebagai, “… rayuan yang menghangatkan jiwa penderita sindrom kematian.”

Sementara Darmawan, wartawan Harian Republika menyebutnya sebagai novel yang langsung menggugah di halaman-halaman pertama. “Begitu membaca halaman pertama, saya begitu ingin cepat-cepat membaca halaman kedua. Begitu seterusnya. Sangat menghibur dan memberi wawasan baru bagi kita tentang makna hidup,” ujarnya.

Pada bedah novel “Jiwa yang Termaafkan” itu sendiri di Istora Senayan, Jakarta, atau bertepatan dengan Indonesia Book Fair 2010, seorang ibu yang membawa anaknya sempat membuat haru penulis dan peserta saat ia bertanya tentang konsep jiwa yang termaafkan. “Masih ada banyak hal yang terganjal di hati. Semoga dengan membaca novel Jiwa yang Termaafkan, saya bisa lebih banyak belajar tentang arti dan dahsyatnya kata maaf,” ujarnya. (*)