News Aceh Story

Agar Syaitan Tidak Mengintip Kami

Kupandangi wajah Raja … dengan sepenuh jiwaku. Sepuas saat aku meneguk air dari mata air di pergunungan Negeri …. Melepas seluruh dahaga jiwa, dan dahaga nafsu yang kini telah dirahmati Tuhanku sejak kami berikrar di hadapan-Nya. Kini kuberanikan diri untuk mengenggam erat-erat jemari tangannya.

Nafasku naik perlahan. Memompa jantungku. Melancarkan aliran darahku yang tadi tersumbat oleh nafsu kelelakian Sultan …. Detik per detik. Menit per menit. Seolah ada aliran darah baru yang begitu segar mengalir ke seluruh urat nadiku. Memberi cahaya baru untuk kulit tubuhku.

Ada jemari-jemari tangan yang kini aku rasakan menindih pungung tanganku. “Aku merasakan ada cahaya baru di tubuhku wahai Putri ….” Aku tersentak. Berusaha melepaskan genggaman jemari-jemari tangannya. Tapi genggaman itu terlalu kuat. “Jangan pergi wahai Putri …. Aku mendengar perseteruanmu dengan Sultan ….”

“Apakah engkau sudah sadar sejak tadi wahai Raja …?”

“Perlawananmu untuk mempertahankan kehormatanmu; kehormatanku; dan kehormatan rakyatmu telah membuat Tuhan menyadarkanku.” Dia kian erat menggenggam tanganku. “Aku bersumpah si hadapan Tuhanku akan berjuang mengusir kaum kafir dari tanah semenanjung …. Apapun itu taruhannya wahai Putri ….”

Aku menangis. Aku bukannya senang dengan ucapan Raja …. Aku malah khawatir ia tak mampu memikul sumpahnya sendiri. Perlahan aku merasakan getaran dari ruh Tuhan itu malah mulai memudar. Nafasku tak teratur. Pikiranku dibawa angan-angan ksatria piningit. Nafsuku membahana di lubuk hati. Aku takut ucapan Habib akan menjadi realita yang ditopang nafsu yang memuja mata realita. Pemujaan atas materi; tubuh bukannya jiwa, tahta bukannya pengabdian, istana bukannya surga. Kini aku malah berharap Tuhan memberikan aku cobaan-cobaan yang menyiksa mata realita, tapi memperkaya mata rasa. Aku tidak ingin tubuhku merasakan kenikmatan, tapi jiwaku merana dalam kesepian dan kebohongan.

“Kenapa engkau menagis wahai Putri …?” Raja … membuyarkan lamunanku.

“Aku takut engkau tidak akan mampu menunaikan sumpahmu itu wahai Raja Seberang.” Aku sengaja menyebut Raja … dengan sebutan yang lazim digunakan rakyat Negeri … untuk Raja …. Dengan itu aku berharap bisa mengingatkannya akan arti sebuah sumpah dan kesetiaan untuk berkorban. Kesederhanaan dan kesetiaan atas sumpah kepada rakyat Negeri … lah yang selama ini membuat Raja … bertahan tinggal di gubuknya yang mungil di seberang sungai istana Negeri …. Rakyat yang melihat kesetiaan Raja … itu kemudian menjulukinya sebagai Raja Seberang.

“Terima kasih engkau sudah mengingatkanku wahai Putri …. Aku takut, hasutan syaitan akan melemahkan sumpahku itu.” Raja … melepaskan genggaman tangannya. Ia membisu. Tapi itu malah membuatku seperti merasakan ada getaran dari ruh Tuhanku yang kembali mulai mengalir secara perlahan di dalam aliran darahku. Menyusuri urat-urat tubuhku. Kucoba untuk kembali menyentuhnya perlahan. Menutup tirai agar syaitan tidak mengintip kami.

–dari novel sejarah. Segera rilis. Tapi baca dulu Novel Jiwa yang Termaafkan. Heee …!