News Aceh Story

Bunker Jepang itu…





Malam
itu tahun 1983. Tanggal dan hari yang tidak diingat lagi oleh Jufri Husein, 56,
warga Bireuen Meunasah Dayah, Kota Juang, Kabupaten Bireuen. Jufri bermimpi
tentang ranjang emas di dalam sebuah kolam. 


Rasa
penasaran tak bisa disembunyikannya. Ia lalu bertanya kepada warga sekitar
apakah ada sejenis bunker (orang Aceh menyebutnya: kurok-kurok) di sekitar
kampung. Jufri bukanlah warga asli Bireuen Meunasah Dayah. Ia asli Pandrah.
Sebuah kecamatan di ujung Barat kabupaten yang sama. Ia baru saja menetap di
sana.

Informasi
tentang sebuah bunker yang pernah dijadikan tempat persembunyian Jepang
kemudian diperoleh Jufri. Tapi selama itu belum ada yang berani turun ke sana.


“Hewan
ternak yang tersesat ke sana saja tidak pernah kembali lagi,” kata Jufri kepada
tim ekspedisi Tabloid Trang suatu sore di bulan Mei 2013. Pernyataan Jufri itu mengutip
kata-kata orang tua kampung.

Tapi
ia kemudian memberanikan diri juga untuk turun ke sana. Mengajak dua pemuda
kampung. “Ada banyak kelelawar saat pertama kali kami turun ke bunker,”
ujarnya. “Alhamdulillah kami selamat.”  

Bunker
itu sejatinya berada di pinggir jurang
sebelah Barat sirkuit Cot Gon Bhan yang berada di atas bukit berkarang. Sekitar 2
kilometer (Km) dari Simpang Meunasah Blang (atau: simpang depan SPBU Reuleut).

Tapi
adakah ranjang emas seperti di mimpinya? “Kami menemukan empat mortil. Tidak
ada ranjang emas.”

Mortil
itu kemudian coba diledakkan oleh Jufri di bawah tumpukan jerami. Ia dan dua
pemuda kampung kemudian bersembunyi di balik pematang sawah untuk menghindari
ledakan. Tapi api yang membakar jerami ternyata tak membuat mortil meledak.
“Ternyata hulu ledak yang diduga peninggalan Jepang itu tak lagi aktif,” sebut
Jufri.

Bunker
itu berawal pada masa penjajahan Jepang. Saat kerja Romusa diterapkan.
Berdasarkan penuturan orang-orang zaman dulu, Jepang sengaja mendatangkan
orang-orang luar Aceh (sebagian menyebutnya asal Jawa) untuk membuat bunker
tersebut.

“Itu
karena Jepang tak bisa sepenuhnya menaklukkan Aceh.”

“Walau
sekalipun seluruh pakaian orang Aceh dilucuti hingga harus menjadikan goni
sebagai bahan pakaian,” ujarnya.

Goretan-goretan
pahat jelas terlihat pada dinding-dinding bunker. Menandakan bahwa bunker
tersebut bukanlah terbentuk secara alami. Melainkan hasil buatan manusia.
Guratan pahatpun terlihat berbeda-beda. Ada yang sepertinya memakai pahat
ukuran besar dan ada pula yang
kecil.

Menurut
penuturan Jufri, ada lima mulut bunker di bawah lapangan yang sekarang bernama
Cot Gon Bhan itu. Tanah yang kini juga telah menjadi hak milik
seorang warga Bireuen. Yang spesial, kata Jufri dan tim ekspedisi Tabloid Trang
adalah bunker pertama. Panjangnya ditaksir mencapai 300 meter dengan tiga
lorong yang dimilikinya. Lebar lorong-lorong itu sekitar 1 meter dengan
ketinggian tak mencapai 170 meter. Tim ekspedisi Tabloid Trang saja sampai
harus sedikit membungkukkan tubuhnya saat memasuki bunker itu. Sementara tiga
kamar yang berada di tiap lorong berukuran 3×3 meter.

“Ini
tempat persembunyian paling aman pada masanya,” tutur Jufri.

Penuturan
Jufri cukup masuk akal karena bunker itu berada di bawah bukit dengan tekstrur
tanah di atasnya yang berupa karang cukup keras. Hingga akar-akar pohon besar
saja tak cukup kuat untuk menembusinya. 

“Jadi
bila ditembak dari arah mana saja oleh musuh tak mungkin bisa mencapai sasaran.”

Cerita
lain ikut berkembang dalam obrolan kami sore itu di sebuah warung kopi. “Dulu
sempat tersiar kabar kalau maling hewan ternak sering menyembunyikan hasil
curiannya di sini.”

Kabar
itupun bisa saja benar. Tim ekspedisi Tabloid Trang sempat melihat tengkorak
hewan ternak di sekitar bunker. Begitu pula dengan sebuah kasur yang masih
tergeletak begitu saja di dalamnya. Terapung di atas air. Kasur itu bisa
dipastikan bukan peninggalan Jepang. Melainkan sebuah kasur dengan jenis spring
bed tipis 3 kaki.

Cerita
dan pengalaman orang tentu saja boleh berkembang soal bunker tersebut.

“Yang
perlu dipahami bahwa ini adalah sejarah. Orang luar (asing) malah membuat
sejarah dari tidak ada menjadi ada.” Abu Ryan Djuli, seorang pekerja seni dan
budaya asal Bireuen yang ikut dalam ekspedisi besama kami hari itu, ikut menimpali.

“Pemerintah
saja tentu sulit. Hanya mengandalkan kepedulian masyarakat pun susah. Di
sinilah peran bersama dibutuhkan. Pemerintah dan masyarakat.”   

Kalimat
itu seperti mewakili kegelisahannya terhadap banyak situs sejarah yang masih
kurang mendapat perhatian kita bersama. (mardani
malemi)