News Aceh Story

Habib Bugak Dalam Kajian Hilmy Bakar

Siapa
sebenarnya Habib Bugak belum ada data otentik tentang itu dan masih menjadi
kajian oleh beberapa pemerhati sejarah, meski Hilmy Bakar bersama Tim Red
Crescent-nya telah melakukan serangkaian penelitian pada tahun 2007 dan
menyajikan data-data sejarah secara ilmiah. 
Dalam
tulisan yang dipublikasikannya, Hilmy memberi kesimpulan bahwa yang dimaksud
dengan Habib Bugak Al-‘Asyi adalah Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi. Hilmy
menulis, “…Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi adalah seorang yang
pertama membuka Bugak dan memiliki kedudukan terhormat sebagai wakil Sultan.
Hal ini diperkuat  dokumen yang dikeluarkan Sultan Mansyur Syah bertahun
1270 H yang menyebutkan dengan terang nama Habib Abdurrahman dengan Bugak.”
Hilmy juga
menulis, “Habib Abdurrahman pernah hidup di Bugak sebagai orang kepercayaan
Sultan Aceh Darussalam antara tahun 1206 H sampai dengan tahun 1270 H, hampir
bersesuaian dengan tahun wakaf dibuat pada tahun 1222 H.”
“…bulan
Ramadan 1431 H lalu, saya (Hilmy Bakar) sempat menemui langsung  dengan
Syekh Munir Abdul Ghani Ashi yang menjabat Direktur Pengelola (Nadzir) Wakaf
Habib Bugak di Mekkah.”
“Menurut 
Syekh Munir, sampai kini seluruh aset wakaf Habib Bugak sudah berkembang
menjadi sekitar 300 juta Riyal Saudi, atau sekitar Rp 7,5 Triliun Rupiah.
Warisan Habib Bugak terus berkembang, baik dalam bentuk tanah maupun bangunan.
Di antaranya dua unit hotel bertingkat 25 bernama Hotel Elf Al-Masyair dan
hotel bertingkat 28, masing-masing hanya berjarak 500 dan  600 meter dari
Masjidil Haram. Kedua hotel besar ini mampu menampung lebih 7.000 jamaah yang
dilengkapi dengan infrastruktur lengkap.”
“Ada
juga  apartemen dan tanah kosong berjumlah lebih 10 unit. Tahun depan
rencananya Nadzir Waqaf Habib Bugak akan membangun Kompleks Pemondokan Haji
yang mampu menampung 5.000 jamaah yang berasal dari Aceh. Hasil wakaf juga
digunakan untuk menyewakan beberapa bangunan lainnya untuk kepentingan
masyarakat Aceh.”

“…Belum ada data otentik siapa nama aslinya. Habib
Bugak hanya nama samaran yang digunakan oleh Pewakaf untuk  menjaga
keikhlasan hati dalam beribadah. Syekh Munir menyebutkan bahwa Habib adalah
gelar untuk Sayyid atau keturunan Rasulullah yang umum digunakan di Mekkah pada
masa itu, yakni sebelum berkuasanya Dinasti Ibnu Saud, penguasa Kerajaan Saudi
sekarang….” (selengkapnya dapat dibaca di blog: www.hilmybakar.blogspot.com).
(*)