News Aceh Story

Sebuah Legenda dari Batee Raya


 

Hari itu sekitar tahun 1832
Masehi. Beberapa orang yang diperkirakan asal Peusangan tertegun dengan sebuah
batu besar yang memiliki tinggi hingga 8 meter lebih dan berdiameter (keliling)
30 meter.   

Orang-orang asal Peusangan ini
diperkirakan adalah orang pertama yang membuka areal pemukiman penduduk di
gampong yang kemudian dikenal dengan nama Gampong Batee Raya, Kecamatan Juli,
Bireuen.  

“Buyut kami sejak dulu
menceritakan bahwa batee (batu) itu
sudah besar segitu,” tutur Abdul Hadi, Keurani (Sekretaris) Gampong Batee Raya.
Abdul Hadi adalah pemilik tanah yang berhadapan langsung dengan petapakan Batee
Raya.

Tanah pada petapakan Batee
Raya itu sendiri adalah tanah adat gampong.
Banyak cerita yang berkembang
terkait Batee Raya (batu besar) yang diatasnya datar dan luas itu. Bahkan
sebagaimana diceritakan Junaidi, dibagian atasnya cukup dan bisa untuk
menampung sekelompok  orang yang ingin
berdo’a.   
Dibagian belakang dari batu
itu juga terdapat tangga (menyerupai) yang bisa digunakan untuk mempermudah
pengunjung menapaki hingga ke bagian atas Batee Raya.
“Hingga tahun 1970-an,
kenduri blang masih dilaksanakan disekitar Batee Raya,” tutur Abdul Hadi dalam
suatu kesempatan wawancara dengan Trang.
Ditemani Keuchik Junaidi M. Nur dan Keurani Cut, Mukhlis.
Konon katanya, menurut cerita
legenda dari buyut penduduk Gampong Batee Raya, di dalam Batee Raya terdapat
berbagai macam piring, cangkir dan peralatan prasmanan lainnya. Masyarakat
Gampong Batee Raya dahulu, menurut cerita yang berkembang, biasa mengambil alat
prasmanan untuk kebutuhan kenduri dari dalam Batee Raya. Ketika masyarakat
berhajat untuk kenduri dan pergi ke Batee Raya, ada pintu yang terbuka dengan
sendirinya, hingga masyarakat bisa mengambil piring, cangkir dan sebagainya
dari dalam Batee Raya.
Namun, pintu itu akhirnya
tertutup untuk selamanya setelah salah seorang penduduk gampong yang berhajat
kenduri dan kemudian mengambil piring dari dalam Batee Raya, pada saat
mengembalikannya ke dalam Batee Raya, menukar diantara salah satunya dengan
piring miliknya.
“Jadi, kalau seseorang mengambil
dan meminjam piring atau cangkir dari dalam Batee Raya, harus dikembalikan utuh
sebagaimana saat mengambilnya dan tidak boleh ditukar,” kata Abdul Hadi.
Disini sebenarnya ada pelajaran
yang bisa kita petik bahwa kita harus jujur dengan kehidupan ini. Alkisah,
setelah itu tak ada lagi yang bisa mengambil piring dan peralatan kenduri
lainnya dari dalam Batee Raya. Meski demikian, kenduri blang tetap berjalan
hingga tahun 1970-an di lokasi yang berdekatan dengan Batee Raya.
Kisah Batee Raya sebenarnya
adalah sebuah cerita tentang para petani kebun yang dahulunya lebih banyak
menghabiskan waktu mereka di areal perkebunan yang berada perbukitan Dusun Kuta
Bato yang berjarak sekitar 4 kilometer dari pusat Gampong Batee Raya di Dusun
Simpang Empat.
Keuchik Batee Raya, Junaidi
M. Nur menuturkan, dahulu sebelum konflik berkecamuk hebat, umumnya masyarakat
Batee Raya punya rumah kedua di areal perkebunan untuk menjaga dan merawat
hasil kebunnya. Tak jarang, dalam seminggu, masyarakat membagi waktu tiga hari
menginap di kebun dan empat hari di pemukiman penduduk atau sebaliknya.
“Malah pada saat-saat
tertentu, misalnya, pada masa panen, gampong sepi karena masyarakat jarang
pulang,” tuturnya. 
Di areal perkebunan dengan
luas lahan  800 hektar (400 hektar
lainnya merupakan lahan tidur), Junaidi menyebutkan,  sekitar 200 hektar merupakan lahan kepala
hibrida dan 200 hektar lainnya ditanami berbagai macam tanaman palawija,
seperti, karet, coklat, jagung, pinang dan sawit. Jagung malah pernah menjadi
tanaman andalan petani kebuh Batee Raya.
“Tapi kini masyarakat
kekurangan modal usaha untuk mengolah tanah kebun miliknya. Akhirnya beberapa
masyarakat menjadi buruh kebun yang dimiliki oleh beberapa pemilik modal,” ujar
keuchik.
Untuk itu ia berharap,
pemerintah dapat memfasilitasi usaha perkebunan rakyat di Batee Raya melalui
pemberian modal usaha. Dengan demikian, lahan tidur dapat dimanfaatkan menjadi
lahan produktif.
“Kami juga berharap
pemerintah dapat melakukan pengerasan jalan menuju perkebunan rakyat. Selama
ini, kalau hujan, masyarakat tidak bisa melintasinya. Jika sedang berada di
kebun dan tidak cepat-cepat turun ke kampung, masyarakat harus siap-siap
terjebak di perkebunan. Masyarakat harus menunggu saat hujan reda dan jalan
kering. Itu biasanya butuh waktu berjam-jam,” papar keuchik.
Walau demikian, di Hari Ulang
Tahun (HUT) Bireuen ke-13, Keuchik Junaidi memberi apresiasi atas apa yang
sudah dicapai pada masa kepemimpinan Bupati H. Ruslan M. Daud dan Wakil Bupati
Ir. Mukhtar Abda, M.Si.
“Kami melihat pembangunan di
beberapa tempat sudah mulai terasa gemanya. Namun kami berharap perhatian juga
bisa diberikan untuk Batee Raya. Seperti pemberian modal usaha rakyat dan
pengerasan jalan menuju perkebunan,” nilai Junaidi.
“Alangkah baiknya juga kalau
tempat dan sekeliling petapakan Batee Raya dipugar, karena selama ini banyak
masyarakat yang penasaran berkunjung untuk melihatnya,” demikian Keuchik
Junaidi M. Nur. (mardani malemi)