BERBAGI

Ramli Alba tak mengedipkan matanya sekalipun. Saya dan beberapa warga yang menemami kami sore itu di sebuah warung kopi di Simpang Kuala Jeumpa, termasuk Keuchik Nurhadi M Yacob menyimaknya serius. Ikut terbawa dengan mimik Ramli Alba.

“Kami baru mengenal Kerajaan Jeumpa saat mahasiswa dari Banda Aceh KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sini tahun 1990. Itupun hanya sekilas dan kemudian jarang dibicarakan lagi.” Ramli Alba adalah kepala Dusun Meureudom Ratna di Gampong Kuala Jeumpa.

Saat itu, para mahasiswa bertanya kepada warga tentang sejarah Kerajaan Jeumpa dan makam Permaisuri Meureudom Ratna. “Tapi tak ada warga yang mampu mejelaskannya,” ujar dia.

Ya, Meureudom Ratna adalah Permaisuri dari Raja Jeumpa. Makamnya memang berada di Kuala Jeumpa. Tepatnya di Dusun Meureudom Ratna. Sedangkan makam dari Raja Jeumpa sendiri berada di Blang Seupeueng.

Sejarah Kerajaan Jeumpa memang sempat tertutup saat Aceh dilanda konflik dulu. Tapi berkah damai pasca MoU Helsinki kini telah dirasakan oleh segenap masyarakat Aceh. Begitu pula dengan sejarah yang dulu sempat tertutup tirai, telah tersibak kembali.

Setelah Aceh damai, sejarah Kerajaan Jeumpa antara lain banyak diketahui berdasarkan penuturan Muhammad Daud M Thaib (72), tokoh masyarakat Blang Seupeueng yang juga sempat diwawancarai Tabloid Trang pada edisi sebelumnya. Daud adalah keturunan Keujruen Sarah yang diyakini mempunyai hubungan darah dengan Raja Jeumpa.

Tak susah untuk mencapai Kuala Jeumpa. Meski berada di kawasan pesisir pantai, arah Selatan dari gampong (desa) ini juga berbatasan langsung dengan Jalan Negara Banda Aceh-Medan. Ia berada di kilometer 4 arah Kota Bireuen, pusat ibukota kabupaten. Kita hanya perlu berjalan 150 meter dari jalan negara (Simpang Kuala Jeumpa) untuk mencapai makam Meureudom Ratna yang terletak di tengah-tengah perkuburan umum milik warga.

Makam Mureudom Ratna sendiri kini telah dipugar dengan sumber dana APBA/Otsus senilai Rp107,78 juta. Berdasarkan data yang diperoleh tim ekspedisi Tabloid Trang, makam yang pemugarannya dilakukan 28 Mei 2012 itu memiliki volume 46 meter persegi, dengan konstruksi beton dan terali besi di atasnya.

Namun, cerita dari masyarakat Kuala Jeumpa menyebutkan, sebenarnya, sebelum dipugar, telah ada pondasi yang mengelilingi makam Meureudom Ratna. “Seingat kami pondasi itu telah lama ada. Tapi kami tidak tau kapan dan siapa yang membangunnya,” timpal Suardi, kepala Dusun Tokoh Madsyam. Usia Suardi sendiri bila ditaksir sudah berkepala lima.

Lalu apakah pondasi yang telah ada sebelumnya berbentuk batu pualam atau sejenisnya yang menggambarkan masa kejayaan Kerajaan Jeumpa? “Itu seperti batu-batu cetak,” sebut Suardi. Hal inipun ikut dibenarkan Ramli Alba yang juga seumuran dengannya. Saat kami berziarah ke sana, juga tak lagi terlihat pondasi tersebut.

Makam Meureudom Ratna hanya ditandai dengan dua batu nisan biasa, dengan kain putih dibagian nisan kepala. Ilalang dan rerumputan tumbuh di atasnya. Sebuah pohon tua besar juga menandai makam tersebut.

Dalam ekspedisi Tabloid Trang sebelumnya yang menelusuri jejak Kerajaan Jeumpa di Blang Sepeueng, sebuah rekam sejarah kami lihat tertulis dalam bingkai yang rapi di meunasah setempat. Mengingat kembali tulisan pada edisi sebelumnya yang berjudul: Saat Pemuda Cirebon Melafazkan Iyya Ka Na’budu…. Berikut kami kutip beberapa hal yang berkaitan dengan Meureudom Ratna dan Kuala Jeumpa:

Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh, terletak di Desa Blang Seupeueng, merupakan permukiman padat penduduk dengan Bandar Pelabuhan Besar yang terletak di Kuala Jeumpa.

Pada awal tahun 1989 dua pemuda Cina, laki – laki dan perempuan mengunjungi makan Raja Jeumpa, kepada sesepuh desa mereka mengatakan berasal dari Indo Cina, Kamboja. Mereka sengaja datang ke lokasi Kerajaan Jeumpa untuk mencari tongkat nenek moyangnya zaman dahulu. Konon tongkat emas Raja Cina tersebut jatuh dan hilang saat menyerbu kerajaan Jeumpa, yang kemudian ditemukan oleh Raja Jeumpa.

Kerajaan Jeumpa pernah diperangi oleh pasukan Cina, Thailand dan Kamboja. Mereka pernah menduduki benteng Blang Seupeueng. Disebutkan, peperangan tersebut terjadi karena Raja Cina menculik permaisuri Raja Jeumpa yang cantik jelita, Meureudom Ratna.

Permaisuri Raja Jeumpa itu berhasil mereka bawa kabur sampai ke Pahang (Malaysia). Namun kemudian Meureudom Ratna berhasil dibawa kembali ke Blang Seupeueng. Setelah Panglima Prang Raja Kera yang berasal dari Ulee Kareung, Samalanga berhasil mengalahkan Raja Cina.

Sejatinya, jarak antara Blang Seupeueng dengan Kuala Jeumpa tidaklah terlalu jauh. Bila kemudian diketahui Kuala Jeumpa merupakan Bandar Pelabuhan Besar dari Kerajaan Jeumpa, rasanya tak mengherankan bila kemudian nisan dari Meureudom Ratna, permaisuri Raja Jeumpa di temukan di sana.

Hal itupula yang diyakini Keuchik Kuala Jeumpa, Nurhadi M Yacob. “Sebagai warga kami bangga dengan situs sejarah ini. Karenanya kami melestarikannya. Tapi kami juga butuh perhatian pemerintah agar tempat ini menjadi kawasan wisata religi yang dapat dibanggakan masyarakat Aceh.”(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here